Putra Putri Sang Alam

“Ringa pakia… E kino nei hoki… a Hi… Ka tau… a Hi”. Sambil melafalkan kosakata Maori yang eksotis, saya mencoba mengikuti gerakan Dr. Valance Smith yang ritmis. Inilah kami para lelaki Pegiat Budaya yang sedang belajar tarian Haka, salah satu produk budaya paling populer di New Zealand. Secara historis, tarian ini sering digunakan dalam perang, namun makna sebenarnya bukan sekedar tentang rasa amarah, melainkan juga rasa syukur; sehingga tarian ini digunakan dalam beragam konteks seperti kelahiran anak, penyambutan tamu, penghormatan jasad, dsb. Khusus untuk kontingen Pegiat Budaya, para mentor kami Dr. Valance Smith dan Maaki Howard menggubah lirik/mantra dalam tarian yang kami pelajari sehingga maknanya bersifat kontekstual untuk tamu dari Indonesia. Hari pertama di Aotearoa, kami mempelajari Haka (untuk laki-laki) dan Poi (untuk perempuan) setelah melangsungkan Powhiri, upacara tradisional suku Maori yang diadakan di rumah adat bernama Marae. Upacara sakral untuk menyambut tamu kehormatan ini berisi pembacaan doa dan mantra berbahasa Maori, ceramah tuan rumah, nyanyian tradisional tuan rumah, ceramah tamu, nyanyian tradisional tamu, dan salam khas Maori. Pertukaran nyanyian antara tuan rumah dan tamu merupakan simbol sikap saling menghormati; sementara salam khas menempelkan hidung satu sama lain bermakna bahwa kita telah menghirup udara yang sama, karenanya menjadi setara dan bersaudara. Kesan pertama saya tentang budaya Maori: santun dan eksotis.

Foto: Iman Fattah

***

Setengah berlari, saya menekan tombol lift. Di dalam lift, saya berdiri berdampingan dengan pria ber-tattoo dan berambut putih membawa tas besar. Kami turun di lantai yang sama dan menuju ruang kelas yang sama. Ternyata pria ini adalah James Webster, seniman dan pengrajin alat musik keturunan Maori yang baru tiba dari bandara tadi pagi sepulang dari pertunjukan di Vietnam. Dia adalah mentor pertama bagi 8 Pegiat Budaya bidang musik di hari ketiga kami di New Zealand. Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun berkeliling ke berbagai negara untuk mengenalkan musik tradisional Maori, James menceritakan dan mendemonstrasikan beragam instrumen musik yang dia bawa di tas besarnya. Secara fisik, instrumen tradisional Maori berasal dari bahan alami di berbagai habitat yaitu laut, hutan, dataran rendah, dan dataran tinggi. Secara teknis, musik Maori tidak mengenal tangga nada khusus; hal ini karena proses pembuatan instrumennya menganut prinsip menghargai bentuk fisiologis murni tanpa modifikasi bentuk yang berlebihan. Selain itu, leluhur Maori menggunakan musik bukan semata-mata sebagai seni pertunjukan, melainkan juga sebagai medium komunikasi (menandakan peristiwa penting); medium refleksi (beberapa instrumen menyerupai suara makhluk hidup tertentu sebagai pengingat untuk mendekatkan diri dengan alam); serta medium relaksasi (beberapa instrumen mengeluarkan frekuensi bunyi yang bisa menenangkan kondisi psikologis manusia). Pertemuan dengan James Webster menyadarkan saya bahwa seni musik bersifat integral dengan jiwa dan raga beragam makhluk hidup di alam raya.

Foto: Ignatius Made

***

Di tengah hujan gerimis, saya berjongkok di hutan kecil yang hijau rimbun. Saya mencari batang kayu, ranting, daun, bebatuan, atau apapun yang bisa saya jadikan kuas untuk melukis. Belasan menit kemudian, saya memilih beberapa ranting dan daun kering sambil berbisik pada hutan, meminta restu karena saya mengambil secuil bagian darinya. Saat berjalan kembali untuk berteduh, sang tuan rumah Caroline Robinson menghampiri dan meminta saya untuk membantunya mengambil tanah liat di antara rerumputan. Berbasuh hujan yang melebat, kami berdua meminta izin pada hutan lalu membawa tanah secukupnya ke ruang aula. Sambil berjalan, saya bertanya banyak hal kepada Caroline tentang nilai dan aktivitas di tempat ini. Saya pun memahami bahwa apapun yang akan saya lukis nanti adalah karya kolaboratif antara saya dan hutan yang telah berbaik hati menyediakan kuas-kuas alami. Inilah konsep yang diperkenalkan kepada rombongan Pegiat Budaya ketika kami mengunjungi Corban Estate Arts Center, sebuah galeri dan art space di luar kota Auckland. Dibangun di area luas bekas pabrik anggur, tempat ini menjadi rumah bagi para seniman lintas bidang dan kewarganegaraan; dilengkapi fasilitas memadai dan suasana kondusif untuk berkesenian dengan prinsip mendekatkan diri dengan alam. Direktur Eksekutif Martin Sutcliffe menjelaskan bahwa organisasinya menyediakan program residensi seniman yang proses seleksinya sangat ketat dengan mengutamakan prinsip pemberdayaan masyarakat. Dari Corban Estate Arts Center, saya membawa pulang keinginan yang besar untuk lebih melibatkan alam dalam proses berkarya.

Foto: Iman Fattah

***

Awalnya, kami 5 Pegiat Budaya bidang musik berlagak malu-malu di ruangan studio The Sound Room, sebuah audio production house yang mengerjakan beragam proyek audio dan musik untuk berbagai media (TV, film, iklan, games, dll) dengan klien berskala internasional. Beberapa saat kemudian, kami berdiskusi panjang lebar dengan para tuan rumah: Marshall Smith, Tom Fox, dan Mike Bloemendal. Dalam beberapa jam, kami merekam 1 komposisi berjudul “Kiwi Yoga”. Saya merekam gitar dan vokal dasar, Ignatius Made merekam bass elektrik, Iman Fattah merekam perkusi dan keyboard. Proses ini ditangani langsung oleh Mike Bloemendal sebagai audio engineer senior yang selama puluhan tahun pernah tinggal dan berkarier di Asia Tenggara. Selama 2 hari, kami didampingi oleh pendiri The Sound Room yaitu Marshall Smith dan Tom Fox yang dikenal sebagai rekan kerja yang komplementer, yang mana Marshall adalah musisi ekstrovert dan Tom adalah musisi introvert. Bersama-sama, mereka telah menghasilkan banyak karya luar biasa. Pada hari kedua di lokasi studio yang berbeda, obrolan kami bukan hanya tentang musik dari sisi teknis melainkan juga bisnis. Di tengah sesi, Morika Tetelepta sempat merekam rap dan Iman Fattah merekam seruling; sehingga hanya Indradi Yogatama yang tidak sempat merekam instrumennya di sana. Di akhir sesi, kami bersantap sore bersama Marshall dan Tom di sebuah restoran pinggir pantai yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari studio. Mungkin inilah yang biasa mereka lakukan untuk mengimbangi proses kerja di dalam ruangan: rehat sejenak untuk mencari inspirasi dengan berjalan kaki ke pantai. Menyenangkan!

Foto: Anna Morrow

***

Lumayan kesal karena setelah puluhan kali mencoba, saya tetap tak bisa membunyikan seruling ini seperti seharusnya. Saya teringat dulu pernah mengikuti seleksi instrumen di marching band kampus dan memang tak bisa membunyikan satu pun alat tiup. Di antara kami bertujuh, hanya 3 orang yang mampu meniup seruling ini dengan benar yaitu Markus Rumbino, Iman Fattah, dan Gema Swaratyagita. Adapun saya dan Shelly Puspita selalu gagal membunyikannya; sementara Ignatius Made dan Indradi Yogatama terlihat menyerah dan memilih memainkan instrumen lain. Inilah kami Pegiat Budaya bidang musik di workshop bersama Jerome Kavanagh Poutama, seorang musisi dan pelestari instrumen tradisional Maori. Dalam suasana santai di ruang kelas, kami saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman satu sama lain. Jerome memperkenalkan beragam instrumen, menjelaskan fungsi dan filosofi di balik setiap instrumen, dan membuatkan seruling Maori untuk kami bertujuh. Salah satu instrumen berbentuk tali dan batu yang dimainkan dengan cara diputar mengeluarkan suara menyerupai burung. Salah satu instrumen tiup berbentuk kendi biasa digunakan untuk mendampingi proses persalinan ibu dengan prinsip pernafasan yang tenang dan teratur. Banyak sekali instrumen menarik yang dibuat dari berbagai habitat alam. Selama bertahun-tahun, Jerome telah mengadakan banyak workshop dengan tema seperti sound healing dan sound bath untuk masyarakat dari berbagai kalangan. Dengan misi mulia dalam bermusik dan karakter pribadi yang unik, saya berjanji kepada diri sendiri untuk bisa berkolaborasi dengan Jerome suatu saat nanti.

Foto: Iman Fattah

***

Saya sedang merekam suara gamelan dari keyboard, Iman Fattah sedang mencoba sound gitar, dan Morika Tetelepta sedang menuliskan mantra Maluku menjadi lirik lagu. Kami 3 Pegiat Budaya bidang musik berada di KOG Studio, sebuah audio production house dengan rekam jejak puluhan tahun di belantika musik New Zealand. Selama 2 hari, kami mengerjakan 1 komposisi bersama Rei McDougall, rapper muda keturunan Maori yang sering memasukkan unsur tradisi ke dalam karya- karyanya. Rei membuat musik dasar berupa beat dan progresi chord untuk dikembangkan bersama. Dalam prosesnya, Morika menemukan banyak kosakata yang serupa antara bahasa Maori dan bahasa daerah Timur Indonesia. Rei pun takjub dan kami semua semakin bersemangat. Akhirnya, kami pun menyelesaikan 1 lagu bernuansa reggae dengan rap berbahasa Maluku dan Maori; dibantu oleh gitaris dan audio engineer Luke Finlay. Kolaborasi ini terjadi di studio sekaligus rumah dari Chris Chetland dan Hui Hamon, pasangan suami istri yang telah malang melintang di industri musik Aotearoa. Sebelumnya, KOG Studio terletak di pusat kota, namun beberapa tahun lalu pindah ke wilayah pinggiran kota untuk menempati rumah tua dengan halaman belakang yang terhubung dengan lembah dan hutan. Alasannya, Chris dan Hui ingin suasana berkarya yang lebih damai dan kondusif. Sekali lagi, di sini saya menangkap relasi antara alam dan aktivitas seni.

Foto: Irana Shalindra

***

Demikian cerita tentang beberapa orang di New Zealand yang membuat saya semakin percaya bahwa seni adalah bagian dari alam. Dalam tulisan ini, saya menyebut mereka sebagai putra putri sang alam. Pada April 2017, saya menggali kembali memori dari Aotearoa untuk dituangkan menjadi karya lagu. Di antara sekian banyak cerita dan wawasan baru, saya tertarik untuk mengangkat konsep Ranginui (bumi) sebagai ibu dan Papatuanuku (langit) sebagai ayah dari umat manusia. Untuk memayungi konsep tersebut, saya memberi judul lagu “Children of Nature” atau “Ngā Tamariki O Te Taiao”, yang mana maknanya serupa dengan judul tulisan ini. Dalam proses pembuatannya, saya berkolaborasi dengan Dr. Valance Smith sebagai penerjemah bahasa Maori dan Jerome Kavanagh Poutama sebagai musisi tamu. Semoga karya lagu tersebut bisa menjadi pengingat bahwa sejatinya manusia hanyalah bagian sementara dari semesta. Teruntuk para pelaku dan penikmat seni yang menjadikan alam sebagai sumber inspirasi, ini adalah ekspresi penghormatan saya melalui aksara dan bunyi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s